19.4.13

PUISI KALBU III

Kau


dari tegasnya langkah-langkahmu
melintasi setiap lorong-lorong cakrawala
berpadu dengan lembutnya sentuhan mentari
menanti kebebasan misteri esok hari

dari indahnya sanubarimu
kau bersujud dalam sunyinya malam
kau merintih memohon keridhoanNya
dalam iringan doa dan takbir

dari agungnya kata-katamu
mengalun merangkai mimpi-mimpi
ajariku membunuh segala benci di hati
mengajariku mencintaiNya

oleh Dhea Atika Risnawati
19 Januari 2013
6:33 PM
Sleman, Yogyakarta

17.4.13

Puisi Kalbu II

Untukmu Koruptor

 

prok prok prok
bukan tepuk tangan
prok prok prok
bukan tepuk tangan lagi
ooo,,, langkah sepatu mewah
merasa orang paling sufi

cring cring cring
bukan bel sepeda
cring cring cring
bukan bel sepeda lagi
apa lagi?
ooo,,, gelang emas
merasa orang paling kaya

sampulnya saja orang suci
isinya pencuri
pagarnya saja orang emas
dalamnya bilik bambu

terus memakan rupiah kami
apa tidak kenyang, Pak, Bu?
mengapa memakan uang kami?
mengapa tidak makan nasi saja?

masih bersembunyi di balik sinar bulan
masih tenangkah memakan uang kami, Pak, Bu?
biarkan
malam juga pasti akan pagi
rembulan pasti akan matahari

paling-paling kalau ketahuan,
pergi ke luar negeri
paling-paling kalau ketahuan,
bilang sakit
atau paling hebat,
menunduk dan minta maaf.

oleh Dhea Atika Risnawati
17 April 2013
8:08 PM
Sleman, Yogyakarta.